Seni Rakyat di Ambang Sekarat, Senjakala Kesenian Tayub Tuban (bag.2)

Seni Rakyat di Ambang Sekarat, Senjakala Kesenian Tayub Tuban (bag.2 dari 3)


Tidak hanya itu, kehidupan Waranggono saat ini tidaklah sebaik 10, 20 atau 30 tahun lalu.

Saat ini, panggilan untuk manggung hanya dari beberapa kalangan saja mau nanggap mereka.

Seni ini sudah kalah dengan seni-seni modern yang jauh lebih murah biaya pertunjukkannya.

Haryadi, budayawan Tuban sekaligus dosen di Universitas Ronggolawe mengibaratkan seni tayub di Tuban masih dalam masa keemasannya. Kesenian ini masih banyak diminati masyarakat kelas bawah.

"Tapi, kalau ini tak dijaga betul bisa jadi akan punah seperti kesenian lain," kata Haryadi.

Menurut Haryadi sudah ada dua kesenian yang punah di Tuban.

Pertama, adalah Gendak, yaitu seni yang menggabungkan tari, musik dan teater ini sudah tak ada lagi penerusnya.

Berikutnya adalah kentrung. Seni bernyanyi dengan tabuhan ketipung, gendang dan sitar ini sudah hilang.

"Padahal ini salah satu seni tradisional asli Tuban," lanjut Haryadi.

Kelompok kentrung di Tuban sendiri kini tinggal menyisakan Mbah Surati.

(bersambung)

Sumber: tribunnews.com

-------------------------
Informasi, saran, kritik, Hubungi segera : 

WA: 0811 3010 123

sms:08113010123?body=halo
Telp/SMS : 0811 3010 123

*tombol hanya berfungsi jika anda mengakses web ini via Smartphone

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Seni Rakyat di Ambang Sekarat, Senjakala Kesenian Tayub Tuban (bag.2)"

Post a Comment